Cara Pembibitan Zaitun
Oleh : M.Iqbal
Teknik pembibitan yang kami pilih untuk zaitun di Indonesia adalah teknik micro-cutting, yaitu dengan memotong ranting muda pohon zaitun dengan diameter sekitar 0.5 cm sepanjang 6 – 10 cm atau 4-6 ruas daun untuk menghasilkan tanaman baru. Dengan ukuran ini dalam kondisi normalnya, hampir pasti potongan ranting tersebut akan mati layu dan kemudian kering.
Maka diperlukan perlakuan khusus agar ranting muda dengan hanya beberapa ruas daun tersebut mampu bertahan segar untuk waktu yang relatif lama, yaitu 1- 2 bulan sampai potongan ranting ini berhasil mengeluarkan akarnya sendiri yang cukup kokoh dan hidup menjadi tanaman baru. Bagaimana caranya ?
Ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan pembibitan zaitun dengan teknik micro-cutting ini yaitu penyiapan bakal bibitnya sendiri, media tanamnya, iklim mikro (micro-climate) yang diperlukan , Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang kemungkinan diperlukan (tidak harus) dan zat lain yang bisa membantu keberhasilan pembibitannya – meskipun juga tidak harus.
Penyiapan Bakal Bibit
Untuk bakal bibit, yang paling perlu diperhatikan adalah pemotongannya dari tanaman induk yang harus pas dibawah ruas daun – karena akar akan tumbuh dari pangkal ruas daun paling bawah – di bekas potongan ini. Kemudian 2-3 ruas daun (jadi 4- 6 daun) paling bawah dibuang daunnya untuk meminimisasi penguapan- selama akar belum tumbuh.
Bahkan bila dipandang perlu 2-3 ruas daun yang tersisa (4-6 daun) dipotong masing-masing tinggal separuh dari lebar daun. Langkah yang kedua ini tidak harus dilakukan – tergantung dengan micro-climate di tempat pembibitan.
Agar fokus pertumbuhan berada di area pembentukan akar, titik-titik pertumbuhan lainnya seperti ujung ranting, tunas dan bakal daun baru – juga dipotong/dihilangkan dahulu.
Media Tanam
Pada masa rhizogenesis atau pembentukan akar ini, media yang digunakan sebaiknya yang ringan dan berporositas tinggi. Tujuannya adalah ketika kita nanti menyiraminya dengan manual maupun otomatis untuk menjaga kelembaban daun, air yang tumpah ke media tanam mudah mengalir ke bawah.
Air yang terjebak pada media tanam secara berlebihan bisa membuat bakal bibit keburu busuk sebelum munculnya akar. Media yang porous ini juga membuat akar muda mudah bergerak dan bercabang untuk terus tumbuh.
Salah satu media tanam yang berporositas tinggi ini yang hasilnya baik antara lain campuran dari pasir, arang sekam, tanah dan kompos. Komposisinya nampaknya tidak terlalu mengikat tetapi yang kami coba dan berhasil baik adalah 1:1:1 :3.
Untuk mempertahankan ZPT tetap berada di tempat perakaran dan menstabilkan bakal bibit di media tanam, bila perlu dan bisa diperoleh – gunakan juga flora foam – yaitu foam khusus untuk tanaman untuk menancapkan bakal bibit sebelum kemudian dimasukkan ke media tanam – lagi-lagi flora foam ini tidak harus, tetapi bila ada sangat membantu.
Micro-Climate
Micro-climate atau iklim mikro menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan pembibitan dari 6 bulan percobaan yang kami lakukan. Iklim mikro ini intinya ada tiga berurutan dari yang paling dominan pengaruhnya, yaitu pertama kelembaban (ratio humidity) di sekitar media pembibitan, kedua suhu dan ketiga cahaya.
Agar batang dan daun bakal bibit yang belum memiliki akar ini tidak mengering karena penguapan, dibutuhkan kelembaban maksimal sampai bibit tersebut bisa mengakses air sendiri dari tanah melalui akarnya. Kelembaban maksimal ini sedapat mungkin tidak kurang dari 90 % dan bahkan sebaiknya mendekati 100%.
Membuat micro-climate yang minimal menghasikan kelembaban di atas 90% inilah titik kritis utama dari pembibitan zaitun dengan menggunakan teknik micro-cutting ini.
Ada tiga pendekatan yang kami coba lakukan dan masing-masing memiliki tingkat keberhasilannya sendiri. Pertama dengan apa yang kami sebut Low Cost Incubator.
Intinya adalah berupa wadah atau pot plastik yang diisi media tanam, kemudian ditutup rapat dengan plastik dan diikat dengan karet. Ketika secara berkala disemprot air ke bibit-bibit yang ditaruh di dalam container ini, maka air akan menguap tetapi terjebak oleh tutup plastiknya – inilah yang menghasilkan kelembaban di dalam wadah tertutup tersebut.
Pendekatan kedua agak mahal dan perlu kreatifitas sedikit, yaitu apa yang kami sebutMini Green House. Intinya berupa ruangan separuh silinder yang terbuat dari plastic dan kerangka pralon – sehingga kondisi dalam ruangan tertutup rapat dan bebas dari pengaruh udara luar.
Untuk menghasilkan kelembaban yang stabil diatas 90% untuk waktu yang terus menerus sampai bakal bibit menghasilkan akar (1-2 bulan), kami menggunakan pengembunan otomatis di dalam ruangan Mini Green House tersebut.
Agak teknis sedikit yang ini dan diperlukan peralatan seperti pompa air, timer, nozzle
pengembunan, saringan air, pipa fleksibel dan tangki air. Intinya bila kita bisa menyemprot embun secara berkala di ruangan – setiap 15 menit siang hari dan setiap 30 menit malam hari – maka insyaAllah kelembaban atau Ratio Humiditydi dalam Mini Green House akan stabil di atas 90 %.
Cara ketiga adalah menggunakan Green House yang sesungguhnya, yaitu ruang tertutup dengan atap kaca dengan kerangka besi. Pengendalian kelembaban dan suhu lebih mudah dari cara-cara sebelumnya. Bila teknik ketiga ini dikombinasikan dengan teknik pertama, tingkat keberhasilannya menjadi sangat tinggi. Tetapi ini exercise yang mahal sehingga hanya kami sarankan bila Anda memang akan terjun ke usaha pembibitan ini dengan skala yang serius.
Idealnya suhu udara di ruangan pembibitan adalah di sekitar 25 derajat celcius. Tetapi percobaan kami juga memiliki keberhasilan yang cukup tinggi di suhu yang lebih tinggi, oleh karenanya bila suhu udara di tempat Anda tidak berada di kisaran 25 derajatcelcius-pun, silahkan tetap mencobanya.
Untuk cahaya, ini juga tidak terlalu sensitif. Yang penting selama periode perakaran ini jangan di ekspose penuh ke matahari dulu. Diperlukan Keteduhan dengan pengurangan cahaya 30-40 % – tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Antara lain bisa kita gunakan paranet 40 % untuk dua maksud sekaligus yaitu menurunkan suhu dan mengurangi cahaya.
Unto keperluan menyelami ilmu dan praktek lapangannya, teknik pertama denganLow Cost Incubator-lah yang kami anjurkan. Bila tempat Anda mencoba memiliki kombinasi micro-climate yang pas (kelembaban, suhu dan cahaya) – maka insyaAllah Anda akan bisa memproduksi bibit zaitun dengan cara yang paling murah.
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
Ada sejumlah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang sudah diidentifikasi oleh para ahlinya. Diantaranya adalah auxins, cytokinin, gibberellin, ethylene, polyamin, abscisic acid, dan phenolics.
Di antara ZPT-ZPT tersebut, yang paling efektif terbukti mempercepat proses pembentukan akar pada tanaman zaitun adalah auxin. Auxin ini secara alami sebenarnya ada di tanaman, tetapi tanaman-tanaman tertentu memiliki auxin yang lebih dari yang lain. Auxin alami tersedia dalam bentuk apa yang disebut Indole Acetic Acid (IAA).
Selain yang alami, auxin sintetis juga banyak diproduksi oleh para produsen bahan kimia pertanian. Yang sintetis ini umumnya dalam bentuk Indole -3-Butyric Acid (IBA) dan Naphthaleneacetic Acid (NAA). Anda bisa membeli ZPT di toko-toko pertanian dan perhatikan kandunganya; untuk zaitun cari yang mengandung IBA lebih banyak dan kemudian NAA dst.
Meskipun tidak harus, penggunaan auxin ini terbukti mempercepat tumbuhnya akar sehingga di lingkungan micro-climateyang kurang sempurna sekalipun pembibitan tetap berpeluang untuk berhasil.
Zat Lain : Madu
Kami baru menemukan satu zat saja yang ada di sekitar kita dan bisa membantu pembibitan zaitun, zat ini adalah madu murni. Madu murni secara zat dan sifatnya memang berbeda dengan ZPT-ZPT tersebut di atas.
Tetapi madu murni bisa membantu proses pembentukan akar dengan cara melindungi luka bekas potongan. Bakteri dan jamur tidak bisa hidup di luka potongan yang dicelup madu sehingga luka bekas potongan bibit micro-cutting tidak cepat membusuk atau mengering.
Luka bekas potongan yang bisa bertahan tetap segar dalam waktu yang lama (1-2 bulan) ini, bila dikombinasikan denganmicro-climate yang tepat akan memberi waktu cukup bagi Rhizocaline (zat perakaran) – yang secara alami tersedia dalam bagian-bagian tertentu tanaman – untuk bergerak ke bekas luka potongan dan menumbuhkan akar.
Karena sifatnya yang hanya memfasilitasi rhizogenesis –pembentukan akar secara alami, proses pembibitan dengan menggunakan madu murni dan sama sekali tidak menggunakan ZPT – sedikit agak lamban sekitar 2- 4 pekan lebih lambat dari yang menggunakan ZPT. Selain itu penggunaan madu juga membuat proses pembentukan akar lebih sensitif terhadap prasyarat micro-climate yang dibutuhkan, bila micro-climate yang dibutuhkan tidak terpenuhi kemungkinan berhasil menjadi kecil.
Hasil Pembibitan…
Bila micro-climate pembibitan berhasil dihadirkan sebaik mungkin di lingkungan pembibitan, eksperimen kami menunjukkan sejumlah akar bisa mulai muncul pada pekan ke 3. Kalau digunakan flora foam di pangkal bibit, pada usia tiga pekan ini akar-akar tersebut sudah muncul menembus flora foam-nya.
Meskipun akar sudah mulai bermunculan, jangan langsung dipindahkan keluar incubator karena saat itu akar putih dengan panjang kurang dari 2 cm masih terlalu lemah untuk menopang kehidupan bibit baru di alam terbuka.
Tunggu sampai akar-akar tersebut memiliki panjang rata-rata antara 3 – 5 cm dan mulai sedikit kecoklatan, saat itulah Anda bisa mulai pindahkan bibit zaitun ini ke media tanam dan bisa ditaruh di tempat yang mendapatkan sinar matahari penuh.
Zaitun adalah tanaman daerah panas, sehingga segera setelah akarnya kuat – dia tumbuh lebih baik bila mendapatkan sinar matahari langsung. Dengan alasan yang sama, tidak dianjurkan bibit berada di dalam ruang incubator terlalu lama. Maksimal tidak lebih dari 1 bulan setelah perakaran mulai muncul.
Sumber : WWW.AGROMUSLIM.COM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar