Rabu, 27 Mei 2015

Ringkasan Kitab Al-Filaha

Ringkasan Kitab Al-Filaha

Oleh : M.Iqbal

kitab al-filaha

Ringkasan Kitab Al-Filaha (Jilid I)
Kitab Al-Filaha ini ditulis pada abad ke 6 H (12 M) oleh Abu Zakariyyah Yahya b. Muhammad atau lebih dikenal dengan Ibnu Al-Awwam (meninggal th 580H atau 1185 M). Kitab ini juga merupakan akumulasi dan penyempurnaan kitab-kitab sejenis yang ditulis oleh sejumlah ulama lain sepanjang dua abad sebelumnya.
Ada tiga versi bahasa dari kitab tersebut saat ini yaitu yang asli berbahasa Arab, kemudahan versi terjemahannya dalam bahasa Spanyol dan bahasa Perancis. Versi bahasa Inggris sedang dalam proses penterjemahannya dari bahasa Spanyol oleh team penterjemah di Amerika Latin (Venezuela) yang juga bekerja bersama kami, sedangkan terjemahan ke dalam bahasa Indonesianya insyaAllah juga segera menyusul – setelah team penterjemah kami menyelesaikan tugasnya.

Proses penterjemahan sendiri akan memakan cukup banyak waktu karena total halaman yang perlu diterjemahkan ada sekitar 1,550 halaman dan banyak berisi istilah teknis, sehingga team penterjemah-pun harus dilengkapi dengan team teknis pertanian. Karena banyak yang tidak sabar menunggu terjemahan referensi tersebut, dalam tulisan ini saya sampaikan resensi ringkasnya.

Karena ada dua jilid dari Kitab Al-Filaha ini, akan terlalu panjang rigkasannya bila saya sajikan dalam satu tulisan. Maka pada tulisan pertama ini adalah khusus dari buku Jilid I yang membahas mulai dari pemahaman tentang tanah, perbaikan kwalitas tanah , penyubur tanah/fertilizer, air, pembibitan dan penananam perbagai tanaman, penanganan penyakit sampai proses panen dan pasca panen.

Ibnu Awwam mengawali bahasan teknisnya tentang pertanian dari pemahaman kwalitas tanah, bagaimana membedakan tanah yang baik dan tanah yang kurang baik. Saking pentingnya pemahaman tentang tanah ini dia mengungkapkan adalah suatu kegilaan bila bertani tanpa memahami kondisi tanah.

Masuk lebih detil lagi tentang tanah, diuraikan pula tanda-tanda tanah yang sehat, yang rusak, cara mengetahui kwalitas tanah dan cara mengetahuinya dengan cepat. Bagaimana tanah bisa disuburkan dengan penyubur tanah/fertilizer (yg dimaksud penyubur tanah selalu alami karena saat itu belum ada pupuk kimia !). Macam-macam jenis tanah dan cara penangannya. Cara mengetahui ketersediaan air tanah dan cara mengetahui kedekatan dengan sumber air.

Cara mempersiapkan dan memperbaiki kwalitas tanah dengan kotoran ternak, cara membuat penyubur tanah, manfaat dari kotoran ternak sepanjang masa, cara penggunaan penyubur tanah, cara memperbaiki tanah yang rusak, memahami jenis-jenis dan sumber penyubur tanah.

Memahami jenis-jenis air dan kwalitasnya, jenis air yang cocok untuk masing-masing jenis tanaman, dan sumber-sumber air. Cara untuk mengetahui keberadaan air di dekat permukaan tanah, cara membuat sumur untuk keperluan pekarangan rumah maupun kebun atau tanah pertanian, dan cara membuat dan mengelola level/kemiringan tanah untuk keperluan pengairan.

Teknik pengaturan kebun, penanaman pohon di tanah kering dan pemberian irigasi, cara perawatan pohon,  dahan dan tunas. Teknik penanaman segala macam buah-buahan anggur, orange, lemon, tin dan buah-buahan lainnya. Cara pemangkasan cabang dan pemilihannya, juga pemangkasan pucuk dan pemilihannya.

Teknik pembibitan/penyemaian, penggandaan tanaman, pembenihan dari biji, transpalntasi/pencangkokan dan pengaturan tanah/media dan jarak pembibitan, penanganan bibit tanaman dan hal-hal yang perlu diperhatikan dari bibit setiap jenis tanaman.

Pengenalan kondisi udara, angin dan musim tanam, setiap petani mutlak perlu tahu tentang tanaman apa dan kapan ditanam. Pengenalan musim yang utamanya menyangkut suhu dan angin serta pemilihan tanaman-tanaman yang sesuai untuk masing-masing musim dan untuk daerah-daerah tertentu.

Selanjutnya penulis ini membahas detil kondisi (tanah, air, angin, suhu, musim dlsb) yang sesuai untuk masing-masing jenis tanaman seperti zaitun, delima, carob, almond, cherry, chestnut, walnut, tin, bunga mawar, jasmine, jeruk, orange, lemon, apple, peach, plum, kurma, anggur, kayu manis, sampai tebu dlsb.
Penulis juga mengumpulkan berbagai teknik pencangkokan tanaman dari   Romawi , dari Persia, Yunani dan perbagai jenis teknik cangkok untuk segala macam buah-buahan sebagai tambahan referensi.

Selanjutnya dibahas pula tahapan pertumbuhan tanaman, kebutuhan masing-masing tanaman pada masing-masing tahapan pertumbuhan dan waktu yang terkait masing-masing tahapan pertumbuhan, jumlah/jarak tanam yang sesuai, penyuburan tanaman, waktu penyuburan, jenis  dan jumlah penyubur tanaman serta pemeliharaan tanaman.

Tahapan pembuahan tanaman juga dibahas secara khusus dan detil, termasuk cara memperbaiki kwantitas dan kwalitas buah, perlunya kecintaan dalam perawatannya, cara-cara penyuburan dan pengairan/penyiraman di masa pembuahan. Dampak penyuburan terhadap jumlah dan rasa buah dengan ijin Allah, serta hasil buah yang sebanding dengan kecintaan dan keseriusan kita dalam perawatannya.

Dibahas pula dengan detil perawatan dan penyembuhan tanaman-tanaman yang sakit, penanganan tanaman buah yang belum maksimal hasilnya juga cara peningkatan kwalitas rasa dan bau kesegaran buah (aroma buah).

Jilid Pertama ditutup dengan penjelasan tentang penanganan pasca panen untuk buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Secara keseluruhan Kitab Al-Filaha mengungkap sekitar 585 jenis tanaman, sekitar 1/10-nya adalah tanaman buah-buahan yang dibahas secara khusus dan detil.

Maka lengkaplah Kitab Al-Filaha Jilid I ini sebagi rujukan petani dari A sampai Z, mulai mengenal tanah sampai menangani hasil panen dan penyimpanannya. Bila Anda adalah petani baru yang membutuhkan satu rujukan saja  yang sudah terstruktur rapi, maka kitab inilah jawabannya. Bila Anda petani kawakan  yang mumet tidak tahu harus berbuat apa karena semua langkah telah ditempuh – dengan biaya mahal pemupukan dlsb. – namun hasil tidak maksimal , maka kitab ini pula rujukannya.

Ringkasan Kitab Al-Filaha (Jilid II)

Melengkapi ringkasan Kitab Al-Filaha Jilid I , ringkasan Jilid II lebih menguatkan lagi betapa komplet-nya referensi dari dunia Islam ini. Pada Jilid ke II Ibnu Awwam memulai bahasannya dengan upaya untuk memaksimalkan hasil dari tanah melalui kombinasi yang tepat antara cara tanam, waktu tanam, penyuburan lahan dan pengolahan kembali lahan. Kemudian dibahas perbagai jenis tanaman biji-bijian, kacang-kacangan, umbi-umbian, sayur, bunga, proses industri atsiri, cuka dan sari buah. Jilid II juga membahas tentang hewan ternak dan hewan piaraan lengkap dengan cara mengatasi penyakitnya sampai operasi pembedahan.

Dalam bab jenis tanaman biji-bijian (grains) dan kacang-kacangan (legumes), dibahas manfaatnya bagi tanah, pemilihan bibit-bibitnya untuk penananam dan segala pengetahuan yang dibutuhkan untuk ini. Juga dibahas jenis lahan yang cocok untuk setiap jenis biji-bijian dan kacang-kacangan.
Secara spesifik juga dibahas penyemaian untuk memilih bibit yang baik dan yang tidak, cara penyemaian, pemilihan waktu penyemaian, jumlah bibit dan pemilihan jenis-jenis gandum dan barley yang baik untuk bahan pangan dan pemeliharaan tanaman.

Dibahas secara khusus pula penanaman biji-bijian dan kacang-kacangan di tanah irigasi dan tadah hujan, termasuk upaya untuk memberikan hasil maksimal pada jenis tanaman padi, kacang , wijen, buncis, jinten dlsb. Untuk lahan kering dan sedikit irigasi dibahas tanaman yang cocok untuk lahan seperti ini yaitu antara lain kapas, linen, rami, bawang, kunyit, hena dan alfalfa.

Bahasan dilanjutkan untuk berbagai tanaman sayur-sayuran dan tanaman obat/herbal, serta pemilihan lahan yang sesuai untuk kebutuhan ini. Ada sayuran dari jenis akar atau umbi seperti lobak, wortel, bawang dan sejenisnya. Ada pula sayuran dari jenis bunga yang berkembang menjadi buah seperti terong, labu, melon, mentimun dlsb. Sayur-sayuran ini umumnya ditanam di  tanah irigasi atau tadah hujan.

Dibahas pula tanaman-tanaman untuk kebutuhan khusus ,  tanaman yang bijinya digunakan untuk obat-obatan seperti jinten hitam atau habbatussauda, adas manis dlsb. Bahkan juga ada bahasan tanaman untuk keharuman sperti lily, daffodils, chrysan, teratai, bunga mawar, kemangi dlsb.

Untuk proses panen dan pasca panen pada tanaman-tanaman tersebut di atas dibahas waktu dan cara pemanenan agar memberikan hasil yang maksimal. Juga cara penanganan hasil panen mulai dari pendirian pabrik atau bangunan untuk pengolahan hasil panen, teknik-teknik pengolahan hasil panen seperti penyulingan bunga mawar, pembuatan cuka , sirup buah anggur dlsb.

Pada bab-bab akhir dibahas seluk beluk peternakan untuk binatang ternak dan binatang peliharaan. Binatang ternak adalah kaitannya dengan pertanian dan makanan, utamanya sapi, kambing dan domba. Teknik pengembang biakannya, pengawinan jantan dan betina, kehamilan dan peranakan. Dibahas pula obat-obatan hewan untuk penyembuhan hewan yang sakit karena kecelakaan dan karena penyakit, termasuk penanganan khusus hewan yang sedang dalam proses penyembuhan dan pemulihan.

Binatang piaraan adalah binatang untuk kendaraan , kesenangan dan melaksanakan pekerjaan seperti kuda, bagal, keledai. Dibahas pengembang biakannya/pengawinan, pemeliharaan  dan penanganan pakannya. Cara-cara penjinakannya apabila masih liar, penyiapan dan pemasangan sepatu atau tapal kuda dan masalah lain yang terkait binatang piaraan. Termasuk didalamnya tentang penanganan penyakit binatang peliharaan dari yang sederhana mudah disembuhkan sampai yang mememerlukan operasi/pembedahan.

Ternak lain yang juga dibahas adalah dari jenis burung  dan serangga untuk pemenuhan kebutuhan dan keindahan seperti bebek, merpati, ayam, merak serta lebah. Dibahas pemilihan jenisnya dan pengelolaan tata letaknya di pekarangan serta penangan penyakit-penyakit yang terkait jenis ternak ini.

Ilmu pengetahuan dan teknologi manusia senantiasa berkembang, tetapi prinsip-prinsip dasar kehidupan tidaklah berubah. Seperti manusia yang membutuhkan jenis-jenis makanan tertentu dan lingkungan hidup tertentu, pertumbuhan dan penanganan penyakit-penyakitnya tetap sangat relevan menggunakan contoh-contoh yang tertuang dalam Tibbun Nabawi yang sudah berusai lebih dari 1400 tahun.

Demikian pula dengan tanaman dan hewan, kebutuhan dasar hidupnya, penopang pertumbuhannya dan penyakit-penyakit yang dialaminya – semua dapat menggunakan referensi yang sama yang usianya sudah sekitar seribu tahun. Malah kini timbul kerinduan orang untuk mengembalikan konsep menanam dan memelihara ternak seperti ketika manusia dahulu melakukannya di masa pra industrialisasi, yaitu pada masa sebelum tanah dan tanaman dirusak dengan pupuk dan obat-obat kimia, sebelum ternak dipaksa makan dari hasil industri yang bukan pakan fitrahnya.

Silabus pertanian dan peternakan yang terstruktur rapi dan komplit itu  kini (segera) tersedia, sebagai bekal generasi ini untuk kembali memakmurkan bumi dengan cara terbaiknya, sambil tentu terus mengembangkan science dan technology – tetapi yang tidak keluar dari fitrah alam kita yang bebas dari pencemaran dan perusakan lingkungan. InsyaAllah.

Sumber : WWW.AGROMUSLIM.COM

Minggu, 24 Mei 2015

Ar Razi Sang Kimawan Muslim Penemu Sabun

Ar Razi Sang Kimawan Muslim Penemu Sabun

Oleh : Hamka Fauzan

Ar-Razi

Barang kali tidak ada diantara kita yang tidak pernah menggunakan sabun untuk membersihkan badan. Bisa kita bayangkan bagaimana baunya dan repotnya bila dahulu kimiawan-kimiawan tidak menemukan ramuan sabun.

Berbagai merk terkenal dari industri-industri besar kita kenal berbagai jenis sabun. Tetapi tahukah kita penemu pertama sabun adalah kimiawan Muslim? Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi dialah penemu ramuan sabun, beliau dilahirkan di Parsi th 865 M.

Dengan berbekal ilmu kimianya beliau juga memperdalam ilmu kedokteran, Al-Razi mendirikan rumah sakit di Rayy, sebagai salah satu rumah sakit yang terkenal sebgai pusat penelitian dan pendidikan medis.

Ar-Razi

Selain sabun banyak sekali penemuan-penemuan dari Ar-Razi lainya diantaranya penemu asam sulfat, alkohol dengan cara fermentasi, manajemen laboratorium dan beliau pulalah yang pertama kali mengelompokan Kimia organic dan anorganic, membuat catatan tentang penyakit cacar, memelopori bedah saraf dan bedah mata.

Salah satu buku karyanya adalah Al Asrar, disinilah Ar-Razi membahas tentang ilmu obat-obatatan, peralatan laboratorium kimia dan ilmu chemical procesing.

Dari sekian banyak penemuan Ar-Razi yang paling spektakular dan sampai sekarang masih bisa kita nikmati adalah sabun. Bahkan komposisinya sabun yang ada di Industri kimia jaman ini masih tidak jauh berbeda dari Penemuan Ar-Razi.
Kompisisi Ar-Razi :
sabun = Minyak zaitun + Al Qoli + Natrun + pewangi
al qoli = alkali
natrun = natrium

Sampai sekarang komposisi sabun tidaklah terlalu berbeda dengan komposisi penemuan Ar-Razi.
Selain Ar-Razi cara-cara pembuatan sabun banyak ditulis kimiawan-kimiawan jaman Muslim Andalusia. Salah satunya adalah Abdul Qasim az-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M). Dokter yang juga ahli kosmetik ini memaparkan tata cara membuat sabun dalam kitabnya yang monumental bertajuk “At-Tasrif”.


Metoda Ektraksi Daun Zaitun

Metoda Ektraksi Daun Zaitun

Oleh : Hamka Fauzan

Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan atau pengambilan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan yang tidak saling larut, biasanya pelarutnya , pelarut organic seperti alcohol, hexane dll.

Ilmu ektraksi modern pertama kali di lakukan oleh kimiawan Islam Ar-Razi nama lengkapnya Abu Bakr Muhammaed ibnu Zakaria Ar-Razi, tetapi lebih terkenal dengan nama Ar-Razi. Dibarat di beri nama Razes. Beliaulah yang mengembangkan instrument instrument laboratorium kimia, bahkan sampai sekarangpun masih dipakai. Dan juga sebagai penyempurna methode penyulingan dan ekstraksi , yang menghantarkannya pada penemuan asam belerang, dengan cara melakukan penyulingan kering asam belerang dan alkohol.

ekstraksi daun zaitun
alat ektraksi zaman Ar-Razi

ekstraksi daun zaitun
alat ektraksi zaman sekarang

Ilmu ekstraksi sangatlah besar manfaatnya baik di industri kimia maupun farmasi. Contoh yang dapat dinikmati sekarang ini adalah ekstraksi daun zaitun OLE (Olive Leaf  Ekstract).

ekstraksi daun zaitun

Faktor-faktor yang akan dipertimbangkan dalam memilih metoda ekstraksi diantaranya sbb:
  • Waktu ekstraksi
  • Suhu/temperature ekstraksi
  • Jenis Solven yang digunakan
  • Alat yang tersedia

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut ekstrak daun zaitun bisa dilakukan dengan beberapa metoda dibawah ini :
  1. Suhu ekstraksi 40 derajar Celcius, solven etanol 80%, perbandingan pelarut dan daun zaitun 30:1
  2. Suhu ektraksi 40, 60 dan 80 derajat celcius. Solven deionisasi air dengan pH asam,
  3. Suhu kurang lebih 5 derajat celcius dengan metoda cool pressed.

Hampir semua metoda diatas menunjukkan hasil yang hampir sama kadar oleoropein nya, yaitu sekitar 4.5 % dari hasil ektrak yang kita peroleh.
Analisis hasil dilakukan dengan alat HPLC, dengan alat ini sangat akurat kadar yang kita tentukan.

ekstraksi daun zaitun

Sedangkan hasil analisanya bisa ditunjukan atau dibaca dari printout dibawah ini.

ekstraksi daun zaitun

Sumber : WWW.AGROMUSLIM.COM

Memakmurkan Bumi, Mulai Dari Yang Kita Bisa

Memakmurkan Bumi, Mulai Dari Yang Kita Bisa

Oleh : M.Iqbal

Bumi ini insyaAllah bisa terus bertambah makmur – bila hal yang diperintahkan ke kita bersamaan dengan perintah menyembah dan mengesakanNya  yaitu memakmurkan bumiNya (QS 11:61) – sungguh-sungguh kita laksanakan. InsyaAllah kita semua bisa terlibat langsung dalam melakukannya.

Bahwa petunjuk Al-Qur’an itu detil dan jelas, ini antara lain ditunjukkan dengan sejumlah ayat di surat yang berbeda-beda yang saling menguatkan dan menjadi penjelas satu sama lainnya – kita temukan rangkaian ayat-ayat ini misalnya dalam ayat-ayat yang terkait dengan perintah untuk memakmurkan bumi tersebut di atas.

Untuk menjelaskan konvergensi ayat-ayat kemakmuran tersebut, bahkan bisa saya visualisasikan dalam ilustrasi tiga dimensi untuk menggambarkan sepotong bumi yang makmur. Untuk bisa kita lihat bersama dengan jelas, seandainya bumi yang makmur itu seperti bulatnya buah semangka – maka gambar dibawah adalah irisannya untuk 1/8 dari semangka tersebut.

Memakmurkan bumi

Saya gunakan irisan ‘semangka’ ini untuk melihat proses pemakmuran yang terjadi di permukaan bumi dan didalamnya ( di bawah tanah) seperti yang dijelaskan di sejumlah ayat dalam berbagai surat.

Dalam hal kemakmuran bumi misalnya surat Yaasiin bercerita tentang bagaimana bumi yang mati (no 1 di gambar) dihidupkan dengan biji-bijian (QS 36 : 33), kemudian ayat 34-nya bercerita tentang kurma (2), anggur (3) dan mata air (4). Maka dua ayat ini bercerita suatu proses dari bumi yang mati sampai menjadi bumi yang subur dengan mata air yang memancar.

Bagaimana proses detilnya kok bisa demikian ? Setelah ditanami biji-bijian, dengan bantuan mikroba yang berkoloni pada perakarannya -  tanaman biji-bijian ini bisa langsung menyerap Nitrogen (N2) di udara dan mengubahnya untuk menjadi Nitrogen yang siap konsumsi oleh tanaman (NH3 kemudian NH4). Bumi yang mati, kini telah mulai hidup dengan unsur utama yang diperlukannya – yaitu Nitrogen.

Bersamaan dengan hadirnya Nitrogen tersebut, permukaan tanah akan tertutup oleh daun dari tanaman biji-bijian ini sehingga mencegah penguapan dari air hujan yang jatuh di permukaan tersebut serta menurunkan suhu permukaannya.

Dengan modal inilah maka kemudian tanah bisa ditanami oleh tanaman-tanaman berikutnya khususnya kurma dan anggur seperti di QS 36 ayat 34 tersebut. Perakaran kurma yang rapat dan dalam – bisa sampai 10 meter, membantu menahan air di dalam tanah.

Air yang tertahan ini terus merembas ke bawah dan dalam waktu yang lama akan menaikkan permukaan air tanah (water table). Water table ini adalah kodisi dimana permukaan air di dalam tanah memiliki tekanan 0 atm. Water table yang terus terisi akan naik mendekati permukaan tanah, maka bila ketemu bagian tanah yang posisinya sama atau lebih rendah dariwater table ini – disitulah air akan memancar sebagai mata air (posisi no 4 dalam gambar).

Setelah ada mata air, maka lebih luas lagi opsi tanaman yang bisa kita tanam. Lahan berupa sawah ladang untuk menanam padi-padian-pun mulai terbentuk, maka di ayat berikutnya (QS 36 : 35) disebutkan bahwa kita bisa makan dari hasil usaha tangan kita – yaitu hasil bercocok tanam jenis padi-padian.

Komposisi kebun yang terdiri dari kurma, anggur dan kemudian sungai-sungai yang mengalir dibawahnya ini juga diungkapkan oleh Allah di Surat Al-Baqarah ayat 266. Senada dengan ini juga di surat Al-Kahfi (QS 18 : 32-33). Bila ilustrasi 1/8 semangka tersebut saya gandakan menjadi ¼ semangka – yaitu sisi kirinya yang sama persis seperti cermin dari gambar yang ada di kanan -  maka akan menjadi ilustrasi seperti di bawah.

Memakmurkan bumi
Kebun Al-Kahfi

Dengan ilustrasi yang baru ini, Anda akan jauh lebih mudah memahami dua kebun yang dijelaskan dalam dua ayat di surat Al-kahfi berikut.
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu” (QS 18 : 32-33)
Prinsip dua kebun yang mengindikasikan kemakmuran dan kebaikan sebuah negeri ini juga diceritakan oleh Allah dalam kasus kaum Saba : “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun“. (QS 34 : 15)

Adapun disandingkannya kebun kurma dan anggur – yang disebut secara khusus oleh Allah di surat 13 : 4 bahwa diantara tanaman-tanaman itu ada yang berdampingan dan ada yang diunggulkan – pasti mengandung hikmah yang luar biasa dan hingga kini belum sepenuhnya bisa diungkapkan oleh ilmu pengetahuan pertanian yang paling modern sekalipun.

Karena bukan hanya di ayat ini kurma dan anggur disandingkan dalam penyebutannya, tetapi juga di sembilan ayat di surat-surat yang berbeda lainnya. Jadi totalnya ada sepuluh ayat dimana kurma dan anggur disebut secara berurutan, yaitu QS 13:4 ;  2 : 266;  6: 99;  13:4;  16:11; 16:67 ; 17:91; 18:32;  23:19 dan QS 36 :34.

Yang jelas kurma adalah tanaman yang bernilai tinggi dan demikian pula anggur, maka ketika keduanya berada dalam satu kebun – pastilah kebun itu memiliki hasil yang sangat tinggi – maka  keduanya juga disebutkan Allah sebagai rezeki yang baik (QS 16 :67).

Bila kebun kurma dan anggur inipun belum memberikan hasil yang maksimal, Allah turunkan resep berikutnya agar tanaman-tanaman ini berbuah banyak dan juga buah-buahan lainnya. Resep itu adalah menggembala sebagai mana ayat berikut :
Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS 16:10-11)
Jadi tempat menggembala terbaik-pun (no 10 di gambar) ternyata juga terkait dengan pohon kurma, anggur dan berbagai buah-buahan lainnya. Penggembalaan terbaik bukan di negeri-negeri padang rumput tempat dari mana kita mengimpor daging dan susu selama ini !, tetapi bisa jdi di negeri ini bila kita  bisa bener-bener melaksanakan petunjukNya.

Bila ini kita lakukan, maka berlakulah janji Allah bahwa sumber-sumber makanan itu akan datang dari atas kita dan dari bawah kaki kita (QS 5:66), dan demikian pula keberkahannya akan datang dari langit dan dari bumi (QS 7 : 96). 

Kemudian keberadaan mata air dan juga sungai sebagai salah satu indikator kemakmuran juga disebutkan di sejumlah ayat-ayat yang sangat banyak, tetapi bagaimana kita bisa berbuat untuk berkontribusi dalam hadirnya mata air-mata air dan sungai-sungai ini ? Dengan menanam pohon dan khususnya kurma !.

Selain disebutkan secara khusus bahwa tanaman kurma ini memancarkan mata air (QS 36:34) dan mengalirkan anak sungai (QS 19 : 23-24) , hadits perintah menanam pohon sampai kiamat – itu juga khususnya untuk pohon kurma, meskipun tidak salah kalau kita menanam pohon lainnya juga. Yang jelas salah adalah bila kita tidak menaman pohon dan bahkan cenderung menebangnya saja !
Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon kurma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. [HR. Ahmad]

Apa yang terjadi di dalam tanah ketika kita menanam pohon kurma  di tanah yang kering sekalipun ?
Tanah yang kering adalah tanah yang tidak ada mata airnya, permukaan air tanah atauwater table-nya (no 9) ada tetapi posisinya sangat dalam. Molekul-molekul air bisa jadi masih ada di zone tidak jenuh (no 7 pada  pada gambar di atas) – tetapi jumlahnya yang tidak memadai untuk diambil sebagai air untuk kebutuhan manusia dan ternak. Hanya system perakaran tanaman – khususnya kurma – yang masih bisa memanfaatkan air yang sangat sedikit ini.

Ketika air hujan turun dan ditahan di perakaran kurma ini, air merembes terus kebawah sampai kepada zona jenuh (no 8). Seperti tetesan-tetesan air hujan yang jatuh ke kolam, maka dia tidak terus bergerak kebawah lagi – perlahan-lahan dia mengangkat permukaan kolam – yang dalam hal ini adalah mengangkat permukaanwater table.

Ketika proses ini berjalan terus, maka saatnya nanti akan tiba – dimana permukaanwater table akan sampai di permukaan tanah – dan saat itulah mata air muncul.

Meskipun hanya Allah-lah yang bisa menyimpan air ini, kita sebagai khalifahNya diperintahkan untuk memakmurkan bumi antara lain melalui  penanaman pohon ini, karena dari pohon-pohon yang kita tanam tersebutlah air disimpan di dalam tanah dan dikeluarkanNya dalam bentuk terbaiknya yaitu mata air-mata air.

Sebagaimana air adalah sumber segala kehidupan, maka menanam pohon adalah bentuk konkrit keterlibatan manusia untuk bisa ikut melestarikan kehidupan di bumi ini. Sebaliknya menebang pohon tanpa diikuti penanaman kembali, menyedot air secara berlebihan dari dalam tanah tanpa upaya untuk ikut mengembalikannya lagi – adalah mengancam ketersediaan air bersih di bumi ini yang berarti juga mengancam kehidupan itu sendiri.

Dengan petunjuk yang begitu jelas, juga konsekwensi dari perbuatan kita saat ini yang begitu penting untuk kelestarian kehidupan di bumi ini selanjutnya – maka mudah-mudahan kita dimudahkanNya agar kaki ini ringan untuk melangkah, untuk mulai berbuat yang kita bisa. InsyaAllah.

Tanggul Laut Raksasa VS Pohon Kurma

Tanggul Laut Raksasa vs Pohon Kurma

Oleh : M.Iqbal

Sebuah super mega proyek  diresmikan mulai pengerjaannya di Jakarta kemarin( 09/10/14) yaitu  tanggul laut raksasa di teluk Jakarta. Proyek yang akan menelan investasi Rp 951 trilyun atau setara lebih dari separuh APBN – P 2014 ini nampaknya juga disadari oleh pemerintah akan banyak menimbulkan efek samping, oleh karenanya pemerintah-pun membuka peluang untuk dikritisi. Saya sendiri tidak mau mengkritisinya karena ini bukan kompetensi saya, tetapi sekedar memberikan pemikiran alternative-nya dengan yang insyaAllah kita tahu ada dasarnya. 
Kalau dilihat dari tujuannya, proyek tanggul raksasa tersebut ada tiga  yang utama yaitu untuk  mengatasi masalah banjir yang terus berulang, untuk mencegah penurunan permukaan tanah dan penyediaan air baku bagi warga Jakarta.

Kita tahu bahwa banjir di Jakarta terus meningkat dari sisi severity (tingkat kerusakannya) dan juga frequency-nya, yang semula terjadi banjir besar lima tahunan menjadi hampir setiap musim hujan banjir besar.

Selain karena terus berkurangnya daya serap tanah terhadap air hujan yang turun, permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan sekitar 4 cm per tahun dan terus meningkat. Dengan meningkatnya laju penurunan  permukaan tanah ini – bila dibiarkan terus terjadi – Jakarta akan berada 3- 5 m di bawah permukaan laut dalam 50 tahun kedepan, ini kurang lebih akan seperti bandara Schiphol Amsterdam yang 4 m di bawah permukaan laut.

Problem air bersih juga sudah semakin serius, bulan-buan kemarau seperti sekarang ini air bersih sudah menjadi langka di sebagian wilayah Jakarta. Yang masih tersedia-pun sudah banyak yang tidak layak minum karena salinitas – mengandung garam – yang tinggi.

Walhasil memang harus ada sesuatu yang besar yang dilakukan pemerintah untuk mencegah situasi terus memburuk dari banjir yang semakin besar sampai tenggelamnya kota Jakarta.
Tetapi yang dilakukan oleh pemerintah tidak harus sesuatu yang kontroverssial dampaknya terhadap lingkungan seperti pembuatan tanggul raksasa tersebut. Manusia dengan ilmunya yang terbatas, secanggih apapun rancangannya – selalu ada hal yang tidak diketahuinya.

Sesuatu yang dibangun bukan sebagai bentuk ketaatan, dampak yang tidak diketahui tersebut biasanya buruk. Itulah dalam pengobatan misalnya, ada istilah efek samping dari obat-obat kimia. Dalam pembangunan ada dampak lingkungan.

Sebaliknya sesuatu yang dibangun dengan ketaatan, meskipun tetap kita tidak tahu semua akibat dari ketaatan tersebut – tetapi dampak samping dari suatu ketaatan biasanya selalu baik – maka kita kenal adanya hikmah dari suatu ketaatan.

Perintah yang sangat ekstrem sekalipun – seperti yang turun ke Nabi Ibrahim Alaihi Salam untuk menyebelih anaknya, ketika itu dilaksanakan dengan ketaatannya – maka hasilnya adalah suatu kebaikan hingga saat ini. Berapa juta domba disembelih setiap Iedhul Qurban disamping hewan-hewan qurban lainnya. Berapa juta lagi orang yang bisa makan daging hari-hari itu, dan berapa juta lagi orang yang mendapatkan rezekinya setiap tahun dari aktivitas qurban ini, para pedagang, para peternak, jasa pengiriman dslb.

Maka saya ingin memberikan pemikiran alternatif bagaimana bila pencapaian tujuan yang sama tersebut di atas – mencegah banjir, mencegah penurunan permukaan tanah dan menyediakan air bersih bagi warga Jakarta – juga dilakukan dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Ketaatan kepadaNya dalam bentuk membenarkan firman-firmanNya dan berusaha mengamalkannya di lapangan tanpa banyak kata ‘tetapi’. Firman-firmannya itu adalah antara lain tentang kurma yang disebut sampai 21 kali di dalam Al-Qur’an. Bahkan dalam surat Yaasiin (paling banyak dihafal sesepuh Jakarta) kurma disebut secara specifik mengelola air atau memancarkan mata air (QS 36:33).

Ketaatan kepada RasulNya antara lain melaksanakan perintahnya dalam hadits untuk menanam pohon kurma meskipun peristiwa kiamat telah mulai, artinya lebih-lebih lagi sebelum itu terjadi.
Dalam tulisan saya sebelumnya “Memakmurkan Bumi, Mulai Dari Yang Kita Bisa” saya telah memberikan ilustrasi detil bagaimana pohon kurma memperbaiki permukaan air tanah sampai memancarkan mata air. Pasti juga bukan kebetulan bila pohon kurma adalah pohon yang paling tahan salinitas – air yang mengandung garam atau air laut.

Bila air yang kita minum rata-rata mengandung garam 300 parts per million (ppm), tanaman normal hanya bisa tahan di kondisi air yang mengandung garam  sampai 1,200 ppm. Pohon kurma mampu bertahan dengan kondisi air yang mengandung garam sampai sepuluh kali itu atau 12,000 ppm.
Apa ini artinya ? di Jakarta Utara yang air tanahnya sudah terlalu asin untuk diminum manusia, terlalu asin untuk pepohonan pada umumnya – tetapi untuk pohon kurma, besar kemungkinaannya akan tetap bisa tumbuh dengan baik.
Untuk membuktikan hal ini sederhana saja, saya tidak akan minta bagian dari anggaran investasi yang besarnya Rp 951 trilyun tersebut – cukup para pembaca situs ini yang tinggal di daerah Jakarta Utara ataupun bagian dari Jakarta lainnya yang air tanahnya sudah terasa asin, silahkan Anda mencoba menanam pohon kurma.

Setelah kita sampai pada tingkat ainul yakin ini, maka kita bisa mulai nanam kurma besar-besaran di Jakarta Utara khususnya, Jakarta dan wilayah Jabodetabek pada umumnya. 
Untuk apa tanaman kurma banyak-banyak ini ?, untuk menjawab permasalahan yang sama yang dicoba atasi dengan Rp 951 trilyunnya proyek tanggul laut raksasa tersebut di atas.

Perakaran pohon-pohon kurma itu akan mencegah intrusi air laut, meningkatkan kapasitas soil storage untuk menyimpan air tawar dari hujan, dan meningkatkan permukaan air tanah – water table. Dengan ini permukaan tanah insyaAllah tidak akan turun – Jakarta tidak menjadi Amsterdam !,  mata air tawar bermunculan dimana-mana (QS 36:34) dan ketika hujan deras-pun turun Jakarta tidak menjadi banjir – karena airnya terserap ke tanah yang soil storage-nya membaik dan terus ke bawah memperbaiki water table.

Semudah inikah ? oh tidak mudah, menuntut kita semua rame-rame menanam kurma – dan ini tidak mudah, dari ribuan yang membaca tulisan ini – paling hanya beberapa yang akan melakukannya – itulah tidak mudahnya, karena kita tidak yakin bahwa yang kita lakukan ini akan ada efeknya.
Sama degan pembuatan tanggul laut raksasa yang dipenuhi efek samping yang kita tidak ketahui, menanam pohon kurma juga dipenuhi oleh efek samping yang tidak atau belum kita ketahui.
Bedanya adalah bila kegiatan menanam kurma ini adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah dan rasulNya tersebut di atas, efek samping itu insyaAllah semuanya baik – sama dengan pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihi Salam ketika membenarkan dan melaksanaakan perintah menyembelih anaknya demi ketaatan atas perintahNya.

Selain insyaAllah bisa mengatasi masalah banjir, penurunan permukaan tanah dan menghadirkan kembali mata air-mata air di Jakarta, juga memberi makan bagi penduduknya, memberi oksigen untuk pernafasan, menyerap CO2 yang mencemari lingkungan dan entah apa lagi yang akan hadir dari pohon yang disebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki keberkahan seperti seorang muslim ini.
Yang jelas, kita tidak butuh Rp 951 trilyun untuk mengatasi banjir, tenggelamnya Jakarta dan masalah air bersih. Kalau toh dana itu ada, banyak sekali program-program lain yang memerlukannya. Insyaallah.

Cara Pembibitan Zaitun

Cara Pembibitan Zaitun

Oleh : M.Iqbal

Teknik pembibitan yang kami pilih untuk zaitun di Indonesia adalah teknik micro-cutting, yaitu dengan memotong ranting muda pohon zaitun dengan diameter sekitar 0.5 cm sepanjang 6 – 10 cm atau  4-6 ruas daun untuk menghasilkan tanaman baru. Dengan ukuran ini dalam kondisi normalnya, hampir pasti potongan ranting tersebut akan mati layu dan kemudian kering.
pembibitan zaitun
Maka diperlukan perlakuan khusus agar ranting muda dengan hanya beberapa ruas daun tersebut mampu bertahan segar untuk waktu yang relatif lama, yaitu  1- 2 bulan sampai potongan ranting ini berhasil mengeluarkan akarnya sendiri yang cukup kokoh dan hidup menjadi tanaman baru. Bagaimana caranya ?
Ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan pembibitan zaitun dengan teknik micro-cutting ini yaitu penyiapan bakal bibitnya sendiri, media tanamnya, iklim mikro (micro-climate) yang diperlukan , Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang kemungkinan diperlukan (tidak harus) dan zat lain yang bisa membantu keberhasilan pembibitannya – meskipun juga tidak harus.

Penyiapan Bakal Bibit

pembibitan zaitun

Untuk bakal bibit, yang paling perlu diperhatikan adalah pemotongannya dari tanaman induk yang harus pas dibawah ruas daun – karena akar akan tumbuh dari pangkal ruas daun paling bawah – di bekas potongan ini. Kemudian 2-3 ruas daun (jadi 4- 6 daun) paling bawah dibuang daunnya untuk meminimisasi penguapan- selama akar belum tumbuh.
Bahkan bila dipandang perlu 2-3 ruas daun yang tersisa (4-6 daun) dipotong masing-masing tinggal separuh dari lebar daun. Langkah yang kedua ini tidak harus dilakukan – tergantung dengan micro-climate di tempat pembibitan.
Agar fokus pertumbuhan berada di area pembentukan akar, titik-titik pertumbuhan lainnya seperti ujung ranting, tunas dan bakal daun baru – juga dipotong/dihilangkan dahulu.

Media Tanam
Pada masa rhizogenesis atau pembentukan akar ini, media yang digunakan sebaiknya yang ringan dan berporositas tinggi. Tujuannya adalah ketika kita nanti menyiraminya dengan manual maupun otomatis untuk menjaga kelembaban daun, air yang tumpah ke media tanam mudah mengalir ke bawah.
Air yang terjebak pada media tanam secara berlebihan bisa membuat bakal bibit keburu busuk sebelum munculnya akar. Media yang porous ini juga membuat akar muda mudah bergerak dan bercabang untuk terus tumbuh.
Salah satu media tanam yang berporositas tinggi ini yang hasilnya baik antara lain campuran dari pasir, arang sekam, tanah dan kompos. Komposisinya nampaknya tidak terlalu mengikat tetapi yang kami coba dan berhasil baik adalah 1:1:1 :3.
Untuk mempertahankan ZPT tetap berada di tempat perakaran dan menstabilkan bakal bibit di media tanam, bila perlu dan bisa diperoleh – gunakan juga flora foam – yaitu foam khusus untuk tanaman untuk menancapkan bakal bibit sebelum kemudian dimasukkan ke media tanam – lagi-lagi flora foam ini tidak harus, tetapi bila ada sangat membantu.

Micro-Climate

pembibitan zaitun

Micro-climate atau iklim mikro menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan pembibitan dari 6 bulan percobaan yang kami lakukan. Iklim mikro ini intinya ada tiga berurutan dari yang paling dominan pengaruhnya, yaitu pertama kelembaban (ratio humidity) di sekitar media pembibitan, kedua suhu dan ketiga cahaya.
Agar batang dan daun bakal bibit yang belum memiliki akar ini tidak mengering karena penguapan, dibutuhkan kelembaban maksimal sampai bibit tersebut bisa mengakses air sendiri dari tanah melalui akarnya.  Kelembaban maksimal ini sedapat mungkin tidak kurang dari 90 % dan bahkan sebaiknya mendekati 100%.
Membuat micro-climate yang minimal menghasikan kelembaban di atas 90% inilah titik kritis utama dari pembibitan zaitun dengan menggunakan teknik micro-cutting ini.
Ada tiga pendekatan yang kami coba lakukan dan masing-masing memiliki tingkat keberhasilannya sendiri. Pertama dengan apa yang kami sebut Low Cost Incubator.
Intinya adalah berupa wadah atau pot plastik yang diisi media tanam, kemudian ditutup rapat dengan plastik dan diikat dengan karet. Ketika secara berkala disemprot air ke bibit-bibit yang ditaruh di dalam container ini, maka air akan menguap tetapi terjebak oleh tutup plastiknya – inilah yang menghasilkan kelembaban di dalam wadah tertutup tersebut.

pembibitan zaitun

Pendekatan kedua agak mahal dan perlu kreatifitas sedikit, yaitu apa yang kami sebutMini Green House. Intinya berupa ruangan separuh silinder yang terbuat dari plastic  dan kerangka pralon – sehingga kondisi dalam ruangan tertutup rapat dan bebas dari pengaruh udara luar.
Untuk menghasilkan kelembaban yang stabil diatas 90% untuk waktu yang terus menerus sampai bakal bibit menghasilkan akar (1-2 bulan), kami menggunakan pengembunan otomatis di dalam ruangan Mini Green House tersebut.

pembibitan zaitun

Agak teknis sedikit yang ini dan diperlukan peralatan seperti pompa air, timer, nozzle
pengembunan, saringan air, pipa fleksibel dan tangki air. Intinya bila kita bisa menyemprot embun secara berkala di ruangan – setiap 15 menit siang hari dan setiap 30 menit malam hari – maka insyaAllah kelembaban atau Ratio Humiditydi dalam Mini Green House akan stabil di atas 90 %.
Cara ketiga adalah menggunakan Green House yang sesungguhnya, yaitu ruang tertutup dengan atap kaca dengan kerangka besi. Pengendalian kelembaban dan suhu lebih mudah dari cara-cara sebelumnya. Bila teknik ketiga ini dikombinasikan dengan teknik pertama, tingkat keberhasilannya menjadi sangat tinggi. Tetapi ini exercise yang mahal sehingga hanya kami sarankan bila Anda memang akan terjun ke usaha pembibitan ini dengan skala yang serius.
Idealnya suhu udara di ruangan pembibitan adalah di sekitar 25 derajat celcius. Tetapi percobaan kami juga memiliki keberhasilan yang cukup tinggi di suhu yang lebih tinggi, oleh karenanya bila suhu udara di tempat Anda tidak berada di kisaran 25 derajatcelcius-pun, silahkan tetap mencobanya.
Untuk cahaya, ini juga tidak terlalu sensitif. Yang penting selama periode perakaran ini jangan di ekspose penuh ke matahari dulu. Diperlukan Keteduhan dengan pengurangan cahaya 30-40 % – tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Antara lain bisa kita gunakan paranet 40 % untuk dua maksud sekaligus yaitu menurunkan suhu dan mengurangi cahaya.
Unto keperluan menyelami ilmu dan praktek lapangannya, teknik pertama denganLow Cost Incubator-lah yang kami anjurkan. Bila tempat Anda mencoba memiliki kombinasi micro-climate yang pas (kelembaban, suhu dan cahaya) – maka insyaAllah Anda akan bisa memproduksi bibit zaitun dengan cara yang paling murah.

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
Ada sejumlah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang sudah diidentifikasi oleh para ahlinya. Diantaranya adalah auxins, cytokinin, gibberellin, ethylene, polyamin, abscisic acid, dan phenolics.
Di antara ZPT-ZPT tersebut, yang paling efektif terbukti mempercepat proses pembentukan akar pada tanaman zaitun adalah auxin. Auxin ini secara alami sebenarnya ada di tanaman, tetapi tanaman-tanaman tertentu memiliki auxin yang lebih dari yang lain. Auxin alami tersedia dalam bentuk apa yang disebut Indole Acetic Acid (IAA).
Selain yang alami, auxin sintetis juga banyak diproduksi oleh para produsen bahan kimia pertanian. Yang sintetis ini umumnya dalam bentuk  Indole -3-Butyric Acid (IBA) dan Naphthaleneacetic Acid (NAA). Anda bisa membeli ZPT di toko-toko pertanian dan perhatikan kandunganya; untuk zaitun cari yang mengandung IBA lebih banyak dan kemudian NAA dst.
Meskipun tidak harus, penggunaan auxin ini terbukti mempercepat tumbuhnya akar sehingga di lingkungan micro-climateyang kurang sempurna sekalipun pembibitan tetap berpeluang untuk berhasil.

Zat Lain : Madu
Kami baru menemukan satu zat saja yang ada di sekitar kita dan bisa membantu pembibitan zaitun, zat ini adalah madu murni.  Madu murni secara zat dan sifatnya memang berbeda dengan ZPT-ZPT tersebut di atas.
Tetapi madu murni bisa membantu proses pembentukan akar dengan cara melindungi luka bekas  potongan. Bakteri dan jamur tidak bisa hidup di  luka potongan yang dicelup  madu sehingga luka bekas potongan bibit micro-cutting tidak cepat membusuk atau mengering.
Luka bekas potongan yang bisa bertahan tetap segar dalam waktu yang lama (1-2 bulan) ini, bila dikombinasikan denganmicro-climate yang tepat akan memberi waktu cukup bagi Rhizocaline (zat perakaran) – yang secara alami tersedia dalam bagian-bagian tertentu tanaman – untuk bergerak ke bekas luka potongan dan menumbuhkan akar.
Karena sifatnya yang hanya memfasilitasi rhizogenesis –pembentukan akar secara alami, proses pembibitan dengan menggunakan madu murni dan sama sekali tidak menggunakan ZPT – sedikit agak lamban sekitar 2- 4 pekan lebih lambat dari yang menggunakan ZPT. Selain itu penggunaan madu juga membuat proses pembentukan akar lebih sensitif terhadap prasyarat micro-climate yang dibutuhkan, bila micro-climate yang dibutuhkan tidak terpenuhi kemungkinan berhasil menjadi kecil.

Hasil Pembibitan…
Bila micro-climate pembibitan berhasil dihadirkan sebaik mungkin di lingkungan pembibitan, eksperimen kami menunjukkan sejumlah akar bisa mulai muncul pada pekan ke 3. Kalau digunakan flora foam di pangkal bibit, pada usia tiga pekan ini akar-akar tersebut sudah muncul menembus flora foam-nya.
Meskipun akar sudah mulai bermunculan, jangan langsung dipindahkan keluar incubator karena saat itu akar putih dengan panjang kurang dari 2 cm masih terlalu lemah untuk menopang kehidupan bibit baru di alam terbuka.

pembibitan zaitun

Tunggu sampai akar-akar tersebut memiliki panjang rata-rata antara 3 – 5 cm dan mulai sedikit kecoklatan, saat itulah Anda bisa mulai pindahkan bibit zaitun ini ke media tanam dan bisa ditaruh di tempat yang mendapatkan sinar matahari penuh.
Zaitun adalah tanaman daerah panas, sehingga segera setelah akarnya kuat – dia tumbuh lebih baik bila mendapatkan sinar matahari langsung. Dengan alasan yang sama, tidak dianjurkan bibit berada di dalam ruang incubator terlalu lama. Maksimal tidak lebih dari 1 bulan setelah perakaran mulai muncul.